Candi Cangkuang merupakan satu-satunya candi yang pertama kali ditemukan di wilayah Jawa Barat (Tatar Sunda) adalah peninggalan hindu kira-kira abad ke 8 M, berada di Kampung Pulo – Cangkuang - Leles - Garut - Jawa Barat.
Tim penelitian Harsoyo bersama Uka Candrasasmita berdasarkan laporan dari Vorderman (1893) menemukan Candi Cangkuang pada tahun 1966.
Candi Cangkuang terletak di pulau kecil yang memanjang dari barat ke timur yang luasnya 16,5 ha. Pulau kecil ini berada di tengah danau (situ cangkuang) pada koordinat 106°54'36,79" Bujur Timur dan 7°06'09" Lintang Utara. Disamping pulau yang ada candinya tersebut, di danau ini masih ada dua pulau lainnya yang berukuran kecil-kecil.
Tim penelitian Harsoyo bersama Uka Candrasasmita berdasarkan laporan dari Vorderman (1893) menemukan Candi Cangkuang pada tahun 1966.
Candi Cangkuang terletak di pulau kecil yang memanjang dari barat ke timur yang luasnya 16,5 ha. Pulau kecil ini berada di tengah danau (situ cangkuang) pada koordinat 106°54'36,79" Bujur Timur dan 7°06'09" Lintang Utara. Disamping pulau yang ada candinya tersebut, di danau ini masih ada dua pulau lainnya yang berukuran kecil-kecil.
Candi-candi di BATUJAYA
Situs Batujaya (reruntuhan Candi Budha) berada di Desa Talagajaya, masuk Kec. Pakisjaya dan Kec. Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Situs ini berada pada koordinat 107°09'17" - 107°09'03" Bujur Timur dan 6°06'15" - 6°16'17" Lintang Utara. Situs Batujaya berada di Tanjung Karawang, dataran bawah elevasi 4 m l.b.l. serta kacondongan 2% (relatif datar). Situs ini jaraknya kurang lebih satengah kilo dari sungai Citarum.
Situs ini pertama kali diketemukan pada tahun 1984/1985 oleh FSUI Jurusan Arkéologi, sampai sekarang yang tergali sudah bertambah 24 kompleks bangunan kuno yang semuanya terletak di pasir leutik (orang sunda menyebutnya ”unur”).
Situs ini berada pada koordinat 107°09'17" - 107°09'03" Bujur Timur dan 6°06'15" - 6°16'17" Lintang Utara. Situs Batujaya berada di Tanjung Karawang, dataran bawah elevasi 4 m l.b.l. serta kacondongan 2% (relatif datar). Situs ini jaraknya kurang lebih satengah kilo dari sungai Citarum.
Situs ini pertama kali diketemukan pada tahun 1984/1985 oleh FSUI Jurusan Arkéologi, sampai sekarang yang tergali sudah bertambah 24 kompleks bangunan kuno yang semuanya terletak di pasir leutik (orang sunda menyebutnya ”unur”).
ARUNG JERAM GARUT
Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Garut memiliki potensi wisata arung jeram yang sangat menantang dengan pemandangan yang sangat indah, tepatnya di dua sungai yaitu Cikandang dan Cimanuk.
Sungai cimanuk di Garut Jawa barat kini menjadi arena mengasyikan untuk para pecinta olah raga arung jeram, derasnya air sungai Cimanuk dirasa menantang bagi pemilik nyali dan pemberani olah raga air yang satu ini.
Sungai cimanuk di Garut Jawa barat kini menjadi arena mengasyikan untuk para pecinta olah raga arung jeram, derasnya air sungai Cimanuk dirasa menantang bagi pemilik nyali dan pemberani olah raga air yang satu ini.
KAMPUNG NAGA TASIK MALAYA
Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya, dalam hal ini adalah adat Sunda. Seperti permukiman Badui, Kampung Naga menjadi objek kajian antropologi mengenai kehidupan masyarakat pedesaan Sunda di masa peralihan dari pengaruh Hindu menuju pengaruh Islam di Jawa Barat.
Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.
Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
===============================



Tidak ada komentar :
Posting Komentar